SUNGGUH LUAR BIASA..! KISAH SAHDU KAKEK DAN NENEK INI PATUT UNTUK DIBACA SETIA HINGGA TUTUP USIA

Sponsored Links
.
Disebuah rumah sederhana yang asri tinggal sepasang suami istri yang telah masuk umur senja. Pasangan itu dikaruniai dua orang anak yang sudah dewasa serta mempunyai kehidupan sendiri yang mapan. 


Sang suami adalah seseorang pensiunan sedang istrinya seseorang ibu rumah-tangga. Suami istri itu lebih pilih untuk terus tinggal dirumah mereka menampik dikala putra-putri mereka tawarkan untuk ikut pindah bersama-sama mereka.... 

Jadilah mereka, sepasang suami istri yang nyaris renta ini menggunakan waktu mereka yang tersisa dirumah yang sudah jadi saksi berjuta peristiwa dalam keluarga ini. 

Satu senja ba’da Isya disebuah masjid tidak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak temukan sandal yang tadi dikenakannya ke masjid tadi. 
Waktu repot mencari, suaminya datang menghampiri “Kenapa Bu? ” 
Istrinya melihat sembari menjawab “Sandal Ibu tak ketemu Pa”. 

“Ya sudah pakai ini saja” kata suaminya sembari menyodorkan sandal yang dipakainya. Walaupun agak sangsi sang istri terus menggunakan sandal ini dengan berat hati. 

Menuruti pengucapan suaminya yaitu kebiasaannya. Jarang sekali ia menyanggah apa yang di katakan oleh sang suami. 

Paham kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya. 

“Bagaimanapun usahaku untuk berterimakasih pada kaki istriku yang sudah menyokong hidupku sepanjang beberapa puluh th. ini, takkan pernah setimpal pada apa yang sudah dilakukannya. 

Kaki yang senantiasa lari kecil membukakan pintu untuk-ku waktu aku pulang, kaki yang sudah mengantar anak-anakku ke sekolah tanpa ada kenal letih, dan kaki yang menyusuri beragam tempat mencari beragam kebutuhanku serta anak-anakku”. 

Sang istri melihat suaminya sembari tersenyum dengan tulus serta merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama…. 

Lantaran umur yang sudah lanjut serta penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan pandangan. Waktu ia kesusahan membereskan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya. 

Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan serta setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut serta bergumam “Terimakasih ya, Bu ”. 

“Tidak, Ibu yang terimakasih sama Ayah, sudah menolong memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu. 

“Terimakasih untuk seluruhnya pekerjaan luar biasa yang belum pasti mampu saya kerjakan. Saya takjub begitu luar biasanya Ibu. Saya tau seluruhnya takkan terbalas hingga kapanpun” kata suaminya tulus. 

Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri “Bapa kok bicara demikian? 
Ibu bahagia atas semuanya Pak, apa yang sudah kita lewati bersama-sama yaitu luar biasa. 

Ibu senantiasa bersukur atas seluruhnya yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik maupun jelek. Seluruhnya bisa kita hadapi bersama-sama. ” 

Hari Jum’at yang cerah sesudah sekian hari hujan. Siang ini sang suami bersiap akan menunaikan ibadah Shalat Jum’at, 

Sesudah berpamitan pada sang istri, ia melihat sekali lagi pada sang istri memandang tepat pada matanya saat sebelum pada akhirnya mengambil langkah pergi. 

Tak ada tanda yang tidak biasa di mata serta perasaan sang istri sampai waktu beberapa orang mengetuk pintu membawa berita yang tidak pernah disangkanya. 

Nyatanya siang ini sang suami tercinta sudah merampungkan perjalanannya didunia. Ia sudah pulang menghadap sang penciptanya saat tengah menggerakkan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya waktu duduk membaca Tahyat terakhir. 

Masih juga dalam posisi duduk prima dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa. 

“Subhanallah sungguh akhir perjalanan yang indah” gumam beberapa jama’ah setelah mengerti bila dia sudah tidak ada. 

Sang istri terbayang tatapan paling akhir suaminya waktu ingin pergi ke masjid. Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah ini sebagai tanda perpisahan pengganti perkataan selamat tinggal. 

Ataukah suaminya kuatir meninggalkannya sendiri di dunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri. Walaupun masih ada anak-anak yang bakal mengurusnya, 

Namun kehilangan suami yang sudah didampinginya sepanjang beberapa puluh tahun cukup membuatnya terguncang. Akan tetapi ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang dapat menghalangi perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik. 

Dalam do’a dia senantiasa memohon kemampuan supaya bisa bertahan serta memohon supaya suaminya diletakkan pada tempat yang layak. 

Tidak lama sesudah kepergian suaminya, sang istri punya mimpi berjumpa dengan suaminya. Dengan muka yang cerah sang suami menghampiri istrinya serta menyisir rambut sang istri dengan lembut. “Apa yang Ayah kerjakan? ’ bertanya istrinya bahagia bercampur bingung. 

“Ibu mesti kelihatan cantik, kita bakal melakukan perjalanan panjang. Ayah tidak bisa tanpa ada Ibu, bahkan juga setelah kehidupan di dunia berakhir, Ayah senantiasa butuh Ibu. Waktu diminta memilih pendamping Ayah bingung, lalu mengatakan pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu. ” 

Istrinya menangis sebelum pada akhirnya berkata “Ibu ikhlas Ayah pergi, namun Ibu juga tak dapat bohong bila Ibu takut sekali tinggal sendiri.. Bila ada kesempatan mendampingi Bapa sekali lagi serta untuk selama-lamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan. " 

Sang istri mengakhiri tangisannya serta menggantinya dengan senyuman. 
Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya…

Silahkan Share jika menurut sahabat semua ini baik sebagai motivasi untuk kita semua dalam mengarungi bahtera kehidupan. terima kasih.
Sponsored Links
Loading...
SHARE

admin

admin.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
loading...
    Blogger Comment
    Facebook Comment
loading...

Blog Archive

Loading...